A009, Menyaksikan Ruang Publik Bernapas Lewat Seni Instalasi

Pagi itu Pekanbaru terasa lembap seperti biasa, jenis lembap yang menempel pelan di lengan sebelum matahari benar-benar tinggi. Saya sempat mengira hari akan berjalan lurus saja, urusan rumah, kerja, lalu pulang. Tidak ada rencana mampir, apalagi berhenti lama di ruang publik.
Lalu di satu sudut yang biasanya hanya saya lewati, ada sesuatu yang membuat langkah saya melambat. Beberapa orang berdiri melingkar, sebagian memegang ponsel, sebagian lagi hanya memandangi benda besar di tengah ruang. Awalnya saya ikut menoleh karena penasaran saja.
Instalasi itu dibuat dari rangka besi bekas, anyaman plastik, dan potongan kaca yang memantulkan langit Pekanbaru. Bentuknya tidak langsung memberi jawaban. Justru karena itu, orang-orang seperti diberi ruang untuk menebak. Dari sana saya merasa, seni instalasi di ruang publik bukan cuma tentang karya yang dipasang, tetapi juga tentang cara sebuah kota tiba-tiba punya napas baru.
Saat karya hadir, cara kita melihat kota ikut bergeser
Trotoar, taman, dan pelataran gedung biasanya kita perlakukan sebagai tempat lewat. Ada yang buru-buru ke kantor, ada yang menunggu jemputan, ada juga orang tua yang menggandeng anak sambil mencari tempat teduh. Semuanya berjalan biasa saja sampai sebuah karya hadir dan mengubah suasana.
Ruang yang tadinya terasa netral pelan-pelan menjadi ruang tafsir. Saya melihat anak muda menunjuk bagian kaca yang berkilau, pedagang berhenti sebntar, dan seorang bapak mencoba membaca arah bentuk besinya. Tidak ada instruksi resmi yang mengatur cara menikmati karya itu. Orang datang dengan pengalaman masing-masing Soal ini, saya pernah singgung di keluarga remaja.
Ada ibu-ibu yang bilang bentuk instalasinya seperti ombak. Seorang bapak melihatnya seperti jaring. Bagi saya, ia seperti potret kota yang tumbuh cepat, tetapi tetap membawa jejak material sehari-hari. Kacanya sederhana, tapi saat kena matahari terlihat hidup bangeet. Di situlah kekuatan seni instalasi di ruang publik, ia tidak memaksa satu jawaban, melainkan membuka percakapan.

Hal yang juga saya suka, karya di ruang terbuka membuat seni terasa lebih dekat dengan warga yang mungkin tidak terbiasa datang ke galeri. Tidak ada tiket, tidak ada rasa canggung karena merasa “kurang paham seni”, dan tidak ada batas sosial yang terlalu kaku.
Orang boleh berhenti sebntar lalu pergi. Bisa juga kembali lagi sore harinya, mungkin bersama teman, pasangan, atau anak. Cara menikmati yang santai seperti ini membuat seni terasa sebagai bagian dari hidup sehari-hari, bukan sesuatu yang jauh dan hanya bisa dinikmati kalangan tertentu.
Reaksi warga adalah bagian dari karya
Sejak mengikuti beberapa agenda seni lokal dari 2022, saya makin percaya bahwa instalasi di ruang publik tidak pernah benar-benar selesai saat senimannya meletakkan karya. Karya itu baru mulai hidup ketika warga meresponsnya. Ada yang memotret, ada yang menjaga agar tidak rusak, ada juga yang mengkritik karena merasa posisinya mengganggu akses jalan Konteks tambahan ada di keluarga balita.
Di lokasi seperti ini, komentar kecil sering terdengar lebih jujur daripada sambutan resmi. Ada anak remaja yang bertanya kenapa bahannya harus bekas. Ada orang tua yang menjelaskan ke anaknya bahwa plastik bisa punya bentuk lain kalau diolah. Ada pula yang mengusulkan karya serupa ditempatkan dekat sekolah atau pasar. Respons warga kadang tidak rapih. Ada yang antusias, ada yang sinis, ada yang sekadar ikut ramai. Namun, justru di situlah ruang kota terasa sehat. Ruang publik memang tempat banyak kepentingan bertemu, dan seni instalasi bisa menjadi jembatan untuk membicarakan hal-hal yang biasanya sulit dimulai.
Dari sebuah karya, percakapan bisa melebar ke estetika, lingkungan, sejarah lokal, sampai pertanyaan tentang siapa yang paling berhak menentukan wajah kota. Topik yang awalnya terdengar berat jadi lebih mudah masuk karena orang mengalaminya langsung di tempat yang mereka kenal. Kalau ingin memahami konteks dasarnya, saya cukup sering merujuk pengertian umum di Wikipedia Indonesia tentang seni instalasi: https://id.wikipedia.org/wiki/Seni_instalasi. Dari sana, saya lebih mudah membaca hubungan antara gagasan seniman dan pengalaman warga di lapangan, termasuk saat ngobrolin reaksi orang-orang yang kelihatannya sederhana tapi sebenarnya penting.

Tantangan nyata: merawat antusiasme setelah acara pembuka
Perhatian publik biasanya memuncak di hari peresmian, lalu pelan-pelan turun. Ini pola yang saya lihat berulang. Instalasi yang awalnya ramai bisa berubah menjadi latar biasa lagi kalau tidak ada upaya menjaga percakapan di sekitarnya.
Menurut saya, bukan berarti setiap karya harus terus dibuat heboh. Tidak semua ruang publik perlu berubah menjadi panggung acara. Namun, perlu ada ritme kecil yang membuat warga tetap merasa terlibat, bukan hanya menjadi penonton saat pita dipotong atau saat foto dokumentasi diambil.
Bentuknya tidak harus rumit. Bisa berupa tur singkat terbuka, sesi bincang dengan seniman lokal, atau kolaborasi dengan komunitas sekitar lokasi karya. Untuk keluarga, kegiatan sederhana seperti mengajak anak menggambar ulang bentuk instalasi juga bisa jadi pintu masuk yang menyenangkan. Penjelasannya tidak perlu terllalu berat, cukup mulai dari pertanyaan, “Menurutmu ini mirip apa?”
Di Pekanbaru, pendekatan yang membumi seperti ini sering terasa lebih berhasil daripada acara yang terlalu seremonial. Warga lebih mudah terhubung saat merasa ruang itu memang milik bersama, bukan sekadar proyek sesaat. Ketika ada kesempatan untuk bertanya, berkomentar, atau datang lagi bersama keluarga, hubungan antara karya dan publik menjadi lebih panjang.
Saya selalu pulang dari pengalaman melihat instalasi di ruang publik dengan perasaan yang hampir sama. Kota ini ternyata bisa bercerita lewat benda-benda yang kita kira biasa. Saat warga mau berhenti sejenak untuk melihat, cerita itu tidak lagi milik seniman saja, tetapi menjadi milik kita bersama.
Sumber lanjutan: sumber resmi.
Bacaan lanjutan: Keluarga pilihan
Selengkapnya di: sumber resmi

PT Avenix Ventura Indonesia
Supplier APD & kebutuhan industri untuk perusahaan — Batam & Bintan.
Sepatu safety, sarung tangan, helm, body harness, LOTO, perkakas, baja galvanis & karbon. Order kecil tetap dilayani — tanyakan minimum order lewat WhatsApp. Katalog: avenix.id